Prasangka dalam Bid'ah Para Sahabat
PARA SAHABAT
MEMBUAT BID’AH ?
Di Antara jurus
yang sering di bawa para pembela bid’ah, adalah riwayat-riwayat
yang menunjukkan adanya amalan-amalan yang dilakukan para Sahabat dan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkannya, artinya
menyukainya. Tidak mungkin Rasulullah membiarkan kalau yang dilakukan
para Sahabatnya tersebut tidak benar.
Berikut ini
perbuatan-perbuatan para Sahabat yang dibiarkan dan disukai oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ;
1- Bilal selalu
bersuci tiap waktu (yakni selalu dalam keada’an berwudhu)
siang-malam sebagaimana akan menunaikan shalat “. (HR Bukhori,
Muslim dan Ahmad bin Hanbal). Dan Bilal selalu melakukan shalat dua
raka’at setelah bersuci. (HR Bukhori, Muslim).
* Rasulullah
meridhoi apa yang dilakukan, di prakarsai Bilal dan Bilal diberi
kabar gembira sebagai orang-orang yang lebih dahulu masuk surga.
2- Khubaib yang
melakukan shalat dua raka’at sebelum beliau dihukum mati oleh kaum
kafir Quraisy. (H.R Bukhari).
* Yang dilakukan
Khubaib disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
3- Seorang
sahabat mengucapkan : “Rabbana lakal hamdu” (Wahai Tuhanku,
untuk-Mu segala puja-puji), setelah bangkit dari ruku’ dan berkata
“Sami’allahu liman hamidah” (Semoga Allah mendengar siapapun
yang memujiNya). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
bertanya : ‘Siapa tadi yang berdo’a ?’. Orang yang bersangkutan
menjawab : Aku, ya Rasul- Allah. Rasulullah saw. berkata : ‘Aku
melihat lebih dari 30 malaikat berebut ingin mencatat do’a itu
lebih dulu’ “. (H.R Bukhari dalam shohihnya II :284, hadits
berasal dari Rifa’ah bin Rafi’ az-Zuraqi).
* Sahabat
tersebut diberi kabar gembira oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam karena amalannya.
4- Ibnu Umar
berkata, “Ketika kami sedang melakukan shalat bersama Nabi saw, ada
seorang lelaki dari yang hadir yang mengucapkan ‘Allahu Akbaru
Kabiiran Wal Hamdu Lillahi Katsiiran Wa Subhaanallahi Bukratan Wa
Ashiila’. Setelah selesai sholatnya, maka Rasulullah saw. bertanya;
‘Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi ? Jawab seseorang
dari kaum; Wahai Rasulullah, akulah yang mengucapkan kalimat-kalimat
tadi. Sabda beliau saw.; ‘Aku sangat kagum dengan kalimat-kalimat
tadi sesungguhnya langit telah dibuka pintu-pintunya karenanya’. .
.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).
* Rasulullah
kagum dengan apa yang dilakukan seorang Sahabatnya.
5- Khabbab shalat
dua raka’at sebagai pernyata’an sabar (bela sungkawa) disa’at
menghadapi orang muslim yang mati terbunuh. (Shahih Bukhori).-
(Fathul Bari jilid 8/313).
* Rasulullah
membenarkan apa yang dilakukan sahabatnya tersebut.
6- ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha mengatakan : “Pada suatu sa’at Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan seorang dengan beberapa
temannya ke suatu daerah untuk menangkal serangan kaum musyrikin.
Tiap sholat berjama’ah, selaku imam ia selalu membaca Surat
Al-Ikhlas di samping Surah lainnya sesudah Al-Fatihah. Setelah mereka
pulang ke Madinah, seorang diantaranya memberitahukan persoalan itu
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menjawab :
‘Tanyakanlah kepadanya apa yang dimaksud’. Atas pertanyaan
temannya itu orang yang bersangkutan menjawab : ‘Karena Surat
Al-Ikhlas itu menerangkan sifat ar-Rahman, dan aku suka sekali
membacanya’. Ketika jawaban itu disampaikan kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau berpesan : ‘Sampaikan
kepadanya bahwa Allah menyukainya’ “. (Kitabut-Tauhid
Al-Bukhori).
* Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan Allah menyukainya.
7- Beberapa orang
menunaikan shalat dimasjid Quba. Orang yang mengimami shalat itu
setelah membaca surah Al-Fatihah dan satu surah yang lain selalu
menambah lagi dengan surah Al-Ikhlas, dan ini dilakukannya setiap
raka’at. Setelah shalat para ma’mum menegurnya, Kenapa anda
setelah baca Fatihah dan surah lainnya selalu menambah dengan surah
Al-Ikhlas ? Anda kan bisa memilih surah yang lain dan meninggalkan
surah Al-Ikhlas atau membaca surah Al-Ikhlas tanpa membaca surah yang
lain ! Imam tersebut menjawab : Tidak !, aku tidak mau meninggalkan
surah Al-Ikhlas kalau kalian setuju, aku mau mengimami kalian untuk
seterusnya tapi kalau kalian tidak suka aku tidak mau mengimami
kalian. Karena para ma’mum tidak melihat orang lain yang lebih baik
dan utama dari imam tadi mereka tidak mau diimami oleh orang lain.
Setiba di Madinah mereka menemui Rasulullah saw. dan menceriterakan
hal tersebut pada beliau. Kepada imam tersebut Rasulullah saw.
bertanya : ‘Hai, fulan, apa sesungguhnya yang membuatmu tidak mau
menuruti permintaan teman-temanmu dan terus menerus membaca surat
Al-Ikhlas pada setiap rakaat’ ? Imam tersebut menjawab : ‘Ya
Rasulullah, aku sangat mencintai Surah itu’. Beliau saw. berkata :
‘Kecinta’anmu kepada Surah itu akan memasukkan dirimu ke dalam
surga’ “..
* Rasulullah
mengatakan Orang yang jadi imam tersebut akan dimasukkan ke Surga
karena perbuatannya itu.
8- Sa’id
Al-Khudriy ra mengatakan, ia mendengar seorang mengulang-ulang
baca’an Qul huwallahu ahad…. Keesokan harinya ia ( Sa’id
Al-Khudriy) memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw., dalam
keada’an orang yang dilaporkan itu masih terus mengulang-ulang
bacaannya. Menanggapi laporan Sa’id itu Rasulullah saw berkata :
‘Demi Allah yang nyawaku berada ditanganNya, itu sama dengan
membaca sepertiga Qur’an’. (H.R Al-Bukhori).
9- Bapaknya Abu
Buraidah menceriterakan, ‘Pada suatu hari aku bersama Rasulullah
saw. masuk kedalam masjid Nabawi. Didalamnya terdapat seorang sedang
menunaikan sholat sambil berdo’a ; Ya Allah, aku mohon kepada-Mu
dengan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau. Engkaulah Al-Ahad,
As-Shamad, Lam yalid wa lam yuulad wa lam yakullahu kufuwan ahad’.
Mendengar do’a itu Rasulullah saw. bersabda ; ‘Demi Allah yang
nyawaku berada di tangan-Nya, dia mohon kepada Allah dengan Asma-Nya
Yang Maha Besar, yang bila dimintai akan memberi dan bila orang
berdo’a kepada-Nya Dia akan menjawab’.
* Rasulullah
menyukai yang dilakukan orang tersebut.
10- Sekelompok
sahabat yang sempat singgah pada pemukiman suku arab badui sewaktu
mereka dalam perjalanan. Karena sangat lapar mereka minta pada
orang-orang suku tersebut agar bersedia untuk menjamu mereka. Tapi
permintaan ini ditolak. Pada saat itu kepala suku arab badui itu
disengat binatang berbisa sehingga tidak dapat jalan. Karena tidak
ada orang dari suku tersebut yang bisa mengobatinya, akhirnya mereka
mendekati sahabat Nabi seraya berkata : Siapa diantara kalian yang
bisa mengobati kepala suku kami yang disengat binatang berbisa ?
Salah seorang sahabat sanggup menyembuhkannya tapi dengan syarat suku
badui mau memberikan makanan pada mereka. Hal ini disetujui oleh suku
badui tersebut. Maka sahabat Nabi itu segera mendatangi kepala suku
lalu membacakannya surah al-Fatihah, seketika itu juga dia sembuh dan
langsung bisa berjalan. Maka segeralah diberikan pada para sahabat
beberapa ekor kambing sesuai dengan perjanjian. Para sahabat belum
berani membagi kambing itu sebelum menghadap Rasulullah saw. Setiba
dihadapan Rasulullah saw., mereka menceriterakan apa yang telah
mereka lakukan terhadap kepala suku itu. Rasulullah saw. bertanya ;
‘Bagaimana engkau tahu bahwa surah al-Fatihah itu dapat
menyembuhkan’? Rasulullah saw. membenarkan mereka dan ikut memakan
sebagian dari daging kambing tersebut “. (HR.Bukhori)
* Rasulullah
membenarkan apa yang dilakukan para Sahabatnya tersebut.
11- Paman
Kharijah bin Shilt yang mengatakan ; “Pada suatu hari ia melihat
banyak orang bergerombol dan ditengah-tengah mereka terdapat seorang
gila dalam keadaan terikat dengan rantai besi. Kepada paman Kharijah
itu mereka berkata : ‘Anda tampaknya datang membawa kebajikan dari
orang itu (Rasulullah), tolonglah sembuhkan orang gila ini’. Paman
Kharijah kemudian dengan suara lirih membaca surat Al-Fatihah, dan
ternyata orang gila itu menjadi sembuh”. (H.R Abu Daud, At-Tirmudzi
dan An-Nasa’i, Hadits ini juga diketengahkan oleh Al-Hafidh didalam
Al-Fath).
12- Rifa’ah ibn
Rafi’ bersin saat shalat, kemudian berkata: “Alhamdulillahi
katsiran thayyiban mubarakan ‘alayhi kama yuhibbu rabbuna wa
yardha” (Segala puji bagi Allah, sebagaimana yang disenangi dan
diridai-Nya). Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda: “Ada
lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba, siapa di antara mereka
yang beruntung ditugaskan untuk mengangkat perkataannya itu ke
langit.” (At- Tirmidzi).
* Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam menyukainya dan memberinya kabar baik.
13- Abdullah bin
Umar radhiyallahu ‘anhuma menambah do’a talbiyah dengan kalimat :
لَبَّيْكَ
لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ
وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ
لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ
إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ.
14- Beberapa
sahabat yang duduk berzikir kepada Allah. Mereka mengungkapkan
puji-pujian sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah karena diberi
hidayah masuk Islam, sebagaimana mereka dianugerahi nikmat yang
sangat besar berupa kebersamaan dengan Rasulullah SAW. Melihat
tindakan mereka, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Jibril
telah memberitahuku bahwa Allah sekarang sedang berbangga-bangga
dengan mereka di hadapan para malaikat.” (H.R mam Muslim dan Imam
An-Nasa’i).
* Rasulullah
menyukainya dan memberi kadar gembira.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Para pembela
bid’ah berkata, Apa yang dilakukan oleh para Sahabat tersebut,
tidak pernah dilakukan dan tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Perbuatan para
Sahabat tersebut merupakan prakarsa atas inisiatif mereka sendiri.
Sekalipun begitu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak mempersalahkan dan
tidak pula mencelanya, bahkan memuji dan meridhoinya, tidak mungkin
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan kalau yang
dilakukan para Sahabatnya itu salah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
TANGGAPAN :
Riwayat-riwayat
yang di sebutkan tadi, yang dilakukan oleh para Sahabat tersebut,
adalah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam MASIH HIDUP.
Untuk memahami
perkara ini, kita harus memahami arti bid’ah secara benar.
Berikut ini
DEFINISI BID’AH menurut para Ulama. Definisi bid’ah yang dimaksud
disini adalah arti bid’ah menurut SYARI’AT, bukan arti bid’ah
menurut BAHASA.
Berikut ini
penjelasan bid’ah menurut para Ulama ;
1- Imam Al-’Iz
bin ‘Abdissalam berkata :
هِيَ
فِعْلُ مَا
لَمْ يُعْهَدْ
فِي عَهْدِ
الرَّسُوْلِ
“Bid’ah
adalah mengerjakan perkara yang tidak ada di masa Rasulullah”.
(Qowa’idul Ahkam 2/172).
2- Imam An-Nawawi
berkata :
هِيَ
إِحْدَاثُ مَا
لَمْ يَكُنْ
فِي عَهْدِ
رَسُوْلِ اللهِ
“Bid’ah
adalah mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah”.
(Tahdzibul Asma’ wal lugoot 3/22).
3- Al-Fairuz
Abadi berkata :
الحَدَثُ
فِي الدَّيْنِ
بَعْدَ الإِكْمَالِ،
وَقِيْلَ : مَا
استَحْدَثَ بَعْدَهُ
مِنَ الأَهْوَاءِ
وَالأَعْمَالِ
“Bid’ah
adalah perkara yang baru dalam agama setelah sempurnanya, dan
dikatakan juga, apa yang diada-adakan sepeninggal Nabi berupa hawa
nafsu dan amalan”. (Basoir dzawi At-Tamyiiz 2/231).
Sampai disini,
bisakah para pembela bid’ah faham ?
Dari keterangan
para Ulama tersebut dapat kita fahami, bahwa bid’ah adalah ;
“PERKARA BARU
(dalam urusan agama), YANG TIDAK ADA DI MASA RASULULLAH MASIH HIDUP”.
Perhatikan sekali
lagi berikut ini ! !
“Bid’ah
adalah segala perkara yang terjadi (dalam urusan agama) SETELAH NABI
TIADA”.
Adapun
perbuatan-perbuatan yang dilakukan para Sahabat tadi, adalah ketika
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam MASIH HIDUP.
Perkara yang di
katakan atau dilakukan oleh para Sahabat ketika Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, dan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkannya tidak mengingkarinya,
maka itu adalah yang disebut SUNNAH TAQRIRIYAH
Perbuatan-perbuatan
yang dilakukan para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam, dan disukai oleh Rasulullah, maka Perbuatan-perbuatan para
Sahabat Rasulullah tersebut menjadi sunnah.
Al-Qostholaani
rahimahullah berkata :
وَإِنَّمَا
صَارَ ذَلِكَ
سُنَّةً لِأَنَّهُ
فُعِلَ فِي
حَيَاتِهِ -صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ-
فَاسْتَحْسَنَهُ
وَأَقَرَّهٌ
“Hanyalah hal
itu menjadi sunnah karena dikerjakan di masa kehidupan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dianggap baik oleh beliau dan
ditaqrir / diakui / disetujui oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam”(Irsyaad As-Saari 5/261)
• APA ITU
SUNNAH TAQRIRIYAH ?
SUNNAH TAQRIRIYAH
adalah ; Perkata’an atau Perbuatan yang dikatakan atau dilakukan
Sahabat Rasulullah, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
membiarkannya tidak mengingkarinya, tidak melarangnya.
Artinya ; Apa
yang dikatakan atau di lakukan oleh Sahabat Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam tersebut disetujui oleh Rasulullah. Tidak mungkin
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan kesalahan, yang
dilakukan Umatnya.
Dan Sunnah
taqririyah adalah sumber hukum dalam Islam, sebagaimana sunnah
fi’liyah dan sunnah qauliyah.
Mungkin disini
perlu disebutkan sedikit tentang sunnah.
Sunnah adalah ;
Maa udhifa ilaan
nabiy min qowlun aw fi’lin aw taqriirin .
Artinya ; “Segala
yang disandarkan kepada Nabi baik itu perkata”an atau perbuatan,
persetujuan” (ushul fikih).
Sunah itu ada
tiga ;
1- Perkata’an
Nabi (sunnah qauliyah)
2- Perbuatan Nabi
(sunnah fi’liyah)
3- Diamnya Nabi
(sunnah taqririyah)
Diamnya Nabi,
artinya Rasulullah membolehkannya, menyukainya. Tidak mungkin
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan kalau yang
dilakukan para Sahabatnya tersebut tidak benar.
Riwayat-riwayat
yang disebutkan tadi, dilakukan oleh para Sahabat ketika Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam MASIH HIDUP.
• TIDAK SEMUA
YANG DILAKUKAN PARA SAHABAT DISUKAI RASULULLAH
Perlu diketahui,
tidak semua yang dilakukan dan niat baik para Sahabat Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam di setujui.
Berikut ini,
pengingkaran Rasulullah terhadap perbuatan yang dilakukan para
Sahabatnya.
1- Suatu ketika
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang
pernyata’an tiga orang, yang pertama berkata : “Saya akan shalat
tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua berkata : ”Saya
akan puasa dan tidak akan berbuka”, yang terakhir berkata : “Saya
tidak akan menikah”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
menegur mereka, seraya berkata : “Apa urusan mereka dengan berkata
seperti itu ?, Padahal saya puasa dan saya pun berbuka, saya shalat
dan saya pun tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang
membenci sunnahku maka bukanlah golonganku”. (Muttafaqun alaihi).
2- Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyetujui Al-Baroo’ bin
‘Aazib radhiallahu ‘ahu dalam mengucapkan lafal doa yang
diajarkan Nabi kepadanya.
Al-Baroo’ bin
‘Aazib berkata :
قَالَ
لِي رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : إِذَا
أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ
فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ
لِلصَّلاَةِ ثُمَّ
اضْطَجِعْ عَلَى
شَقِّكَ الأَيْمَنِ
وَقُلْ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : Jika engkau
mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah sebagaimana berwudhu untuk
sholat, lalu berbaringlah di atas bagian tubuhmu yang kanan, lalu
katakanlah :
اللَّهُمَّ
أَسْلَمْتُ نَفْسِي
إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ
أَمْرِي إِلَيْكَ
وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي
إِلَيْكَ رَهْبَةً
وَرَغْبَةً إِلَيْكَ
لاَ مَلْجَأَ
وَلاَ مَنْجَا
مِنْكَ إْلاَّ
إِلَيْكَ آمَنْتُ
بِكِتَابِكَ الَّذِي
أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ
الَّذِي أَرْسَلْتُ
“Yaa Allah aku
menyerahkan jiwaku kepadaMu, dan aku pasrahkan urusanku kepadaMu, dan
aku sandarkan punggungku kepadaMu, dengan kekhawatiran dan harapan
kepadaMu. Tidak ada tempat bersandar dan keselamatan dariMu kecuali
kepadaMu. Aku beriman kepada kitabMu yang Engkau turunkan dan beriman
kepada Nabimu yang Engkau utus”
Nabi berkata :
فَإِنْ
مِتَّ مِتَّ
عَلَى الْفِطْرَةِ
فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ
مَا تَقُوْلُ
“Jika engkau
meninggal maka engkau meninggal di atas fitroh, dan jadikanlah doa
ini adalah kalimat terakhir yang engkau ucapkan (sebelum tidur)”
Al-Baroo’ bin
‘Aazib berkata :
فَقُلْتُ
أَسْتَذْكِرُهُنَّ
وَبِرَسُوْلِكَ الَّذِي
أَرْسَلْتَ قَالَ
لاَ، وَبِنَبِيِّكَ
الَّذِي أَرْسَلْتَ
“Lalu aku
mencoba untuk mengingatnya dan aku berkata “Dan aku beriman kepada
RasulMu yang Engkau utus”
Nabi berkata,
“Tidak, (akan tetapi) : Dan aku beriman kepada NabiMu yang Engkau
utus” (HR Al-Bukhari no 6311).
3- Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingkari Utsman bin Madz’uun
yang ingin beribadah dan tidak menikah.
Maka Nabi
shallallahu ‘alaihi sallam pun berkata kepadanya :
يَا
عُثْمَانُ إِنَّ
الرَّهْبَانِيَّةَ لَمْ
تُكْتَبْ عَلَيْنَا,
أَفَمَا
لَكَ فِيَ
أُسْوَةٌ ؟
فَوَاللهِ إِنِّى
أَخْشَاكُمْ للهِ
, وَأَحْفَظُكُمْ
لِحُدُوْدِهِ
“Wahai ‘Utsman,
sesungguhnya Rohbaniyah tidaklah disyariatkan kepada kita. Tidakkah
aku menjadi teladan bagimu ?, Demi Allah sesungguhnya aku adalah
orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan akulah yang
paling menjaga batasan-batasanNya” (HR Ibnu Hibban, Ahmad, dan
At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir).
Dari
riwayat-riwayat tersebut bisa kita ketahui, bahwa tidak semua niat
atau perbuatan baik yang dikatakan atau dilakukan para Sahabatnya
selalu disetujui dan disukai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam.
Maka, apabila
sa’at ini ada sebagian orang yang berhujah, boleh berbuat bid’ah
(perkara baru dalam urusan agama), karena para Sahabat pun banyak
yang melakukan suatu amalan hasil kreasinya sendiri. Maka ini adalah
suatu kekeliruan.
Apakah mereka
bisa memastikan, jika amalan-amalan baru dalam urusan ibadah yang di
buatnya, yang diikutinya di sukai disetujui oleh Allah dan Rosulnya ?
Bukankah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun ada pengingkaran
terhadap yang dilakukan para Sahabatnya ?
KESIMPULANNYA ;
Berhujjah dengan
membawakan riwayat-riwayat yang menyebutkan para Sahabat membuat
kreasi-kreasi baru dalam ibadah adalah sangat keliru, karena tidak
semua yang dilakukan para Sahabat Rasulullah Shallallahu ’alaihi
wasallam disetujui dan disukai oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi
wasallam.
Lalu darimana
para pembuat bid’ah bisa mengetahui kalau perkara baru yang
dibuatnya pasti disukai Allah ta’ala dan Rasulnya ?
Selain itu,
riwayat-riwayat para Sahabat tadi merupakan perbuatan para sahabat
sebelum turunnya ayat tentang sempurnanya agama.
Wassalam
Agus Santosa
Somantri
Komentar
Posting Komentar