Kebodohan Kita terhadap Bahaya Syirik (Bag. 3)
Kebodohan Kita terhadap Bahaya Syirik (Bag. 3)
Baca
pembahasan sebelumnyaKebodohan Kita terhadap Bahaya Syirik (Bag. 2)
Syirik Merupakan Senjata Pemusnah Amal
Kita
telah mengetahui bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk
beribadah kepada Allah Ta’ala semata.
Namun sayangnya, jiwa manusia senantiasa mengajak pemiliknya untuk
malas dalam melaksanakan berbagai ketaatan dan justru mendorongnya
untuk bersemangat dalam mengerjakan berbagai kemaksiatan. Oleh
karena itulah, kita sendiri mengetahui dan menyadari keadaan diri
kita yang sedikit melakukan amal kebaikan sebagai bentuk penghambaan
kita kepada Allah Ta’ala.
Dan tentunya, dengan
segala kekurangan yang ada pada diri kita tersebut, kita tentu masih
berharap bahwa amal kita yang sedikit itu diterima oleh Allah Ta’ala
sebagai bekal di hari perhitungan
kelak.
Lalu,
bagaimana jika amal kita yang sedikit itu terhapus begitu saja dan
tidak menyisakan bekas sedikit pun di sisi Allah? Betapa besar
kerugian yang diderita oleh seseorang yang telah bersungguh-sungguh
beramal namun lenyap begitu saja dan tidak meninggalkan bekas
apa-apa. Padahal, bisa jadi dia telah mengerahkan tenaga dan hartanya
serta menahan syahwatnya dalam rangka melaksanakan ibadah-ibadah
tersebut.
Kesyirikan,
itulah perbuatan dosa yang dapat melenyapkan seluruh amal ibadah yang
pernah kita lakukan. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman,
ذَلِكَ
هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ
مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا
لَحَبِطَ
عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Itulah
petunjuk Allah, yang dengannya dia memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya
mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan
yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]: 88)
Dalam
ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ
أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ
لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
وَلَتَكُونَنَّ
مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan
sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang
sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya
akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang
merugi.” (QS. Az-Zumar [39]: 65)
Allah
Ta’ala berfirman,
وَمَنْ
يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ
عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ
الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa
yang kafir sesudah beriman, maka hapuslah amalannya dan ia di hari
kiamat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Maidah
[5]: 5)
Kebaikan
Pada
suatu hari, ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha bertanya kepada
Rasulullah shallallahu
‘alahi wa sallam tentang
Ibnu Jud’an yang meninggal dalam keadaan musyrik pada masa
jahiliyyah.
Akan tetapi, dia memiliki beberapa kebaikan, di antaranya menyambung
silaturahmi dan memberi makan orang miskin (baca: ibadah sosial).
Rasulullah shallallahu
‘alahi wa sallam menjawab,
لاَ
يَنْفَعُهُ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا
رَبِّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى يَوْمَ
الدِّينِ
“(Semua
amalan itu) tidak bermanfaat untuknya. Karena dia tidak pernah
mengatakan, “Wahai Rabb-ku ampunilah kesalahan-kesalahanku pada
hari kiamat.” (HR. Muslim no. 540)
Al-Qadhi
‘Iyadh rahimahullah
berkata,
وَقَدْ
اِنْعَقَدَ الْإِجْمَاع عَلَى أَنَّ
الْكُفَّار لَا تَنْفَعهُمْ أَعْمَالهمْ
، وَلَا يُثَابُونَ عَلَيْهَا بِنَعِيمٍ
وَلَا تَخْفِيف عَذَاب ، لَكِنَّ بَعْضهمْ
أَشَدّ عَذَابًا مِنْ بَعْض بِحَسَبِ
جَرَائِمهمْ .
“Terdapat
ijma’ yang menyatakan bahwa amal-amal yang dilakukan orang kafir
itu tidak akan bermanfaat bagi dirinya. Dia tidaklah diberi pahala,
dan tidak pula mendapatkan keringanan adzab. Akan tetapi, sebagian di
antara mereka lebih berat siksanya sesuai dengan tingkat
kekafirannya.” (Syarh Shahih Muslim, 1:
358)
Demikianlah,
usaha dan kerja keras kita dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’ala
ternyata akan hilang lenyap begitu
saja kalau kita terjerumus ke dalam kesyirikan. Sungguh hal ini
merupakan kerugian yang sangat besar.
***
Simak
selengkapnya disini. Klik
https://muslim.or.id/52269-kebodohan-kita-terhadap-bahaya-syirik-bag-3.html
Komentar
Posting Komentar