Abdurrahman bin Auf
Abdurrahman bin Auf – Saudagar Kaya yang Masuk Surga dengan Merangkak
Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan yang
mula-mula masuk Islam; termasuk kelompok sepuluh yang diberi kabar
gembira oleh Rasulullah masuk surga; termasuk enam orang sahabat yang
bermusyawarah dalam pemilihan khalifah sesudah Umar bin Khattab r.a.;
dan seorang mufti yang dipercayai Rasulullah saw. untuk berfatwa di
Madinah selagi beliau masih hidup di tengah-tengah masyarakat kaum
muslimin.
Namanya pada masa Jahiliah adalah Abdu Amru keturunan
Bani Zuhrah lahir tahun 580 M, 10 tahun sebelum tahun gajah. Bentuk
fisiknya putih kulitnya, lebat rambutnya, banyak bulu matanya, mancung
hidungnya, panjang gigi taringnya yang bagian atas, panjang rambutnya
sampai menutupi kedua telinganya, panjang lehernya, serta lebar kedua
bahunya. Setelah masuk Islam Rasulullah saw. memanggilnya Abdurrahman
bin Auf. Kemudian Rasulullah saw. menggantinya dengan Abdurrahman.
Lengkapnya ialah Abdurrahman bin Auf bin Abdi bin Al Harits bin Zuhrah
bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’aiy. Kuniyahnya ialah Abu Ahmad
Inilah kisah hidupnya
PERSAUDARAAN ABDURRAHMAN BIN AUF DENGAN SAAD BIN RABI
Ketika Abu Bakar menerangkan Islam kepadanya,
Abdurrahman tidak merasa ragu. Ia segera pergi menemui Rasulullah saw
dan berbaiat setia kepadanya. Sebagaimana kaum muslimin yang lainnya, ia
juga mendapatkan tekanan-tekanan dari kaum Quraisy, yang semakin lama
semakin keras. Ketika Allah mengijinkan Rasulullah untuk hijrah ke
Madinah, ia termasuk orang yang turut serta dalam rombongan tersebut.
Abdurrahman bin Auf sangat berhasil dalam
perniagaannya sehingga mengundang kekaguman. Perdagangan dalam pandangan
Abdurrahman bin Auf menjadi ladang amal dan ladang usaha, tidak untuk
mengumpulkan harta semata, tetapi demi kehidupan yang mulia. Inilah yang
bisa kita lihat ketika Rasulullah saw mempersaudarakan kaum Muhajirin
dan Anshar maka Rasulullah saw mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dan
Saad bin Rabi.
Waktu itu, Saad berkata kepada Abdurrahman:
“Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang paling banyak hartanya, maka lihat dan ambillah separuh hartaku. Aku juga memiliki dua orang isteri, maka lihatlah yang paling menarik bagimu dari keduanya, nanti aku akan menceraikannya dan engkau bisa menikahinya.”
Tetapi Abdurrahman bin Auf berkata,
“Semoga Allah memberikan berkah dalam keluarga dan hartamu, maka sekarang tunjukkanlah aku jalan ke pasar.”
Abdurrahman pergi ke pasar. la melakukan aktivitas jual beli hingga memperoleh laba.
IKUT SERTANYA ABDURRAHMAN BIN AUF DALAM PEPERANGAN
Disamping itu, ia juga sosok pejuang yang pemberani.
Ia mengikuti peperangan-peperangan bersama Rasulullah saw. Pada waktu
perang Badr, ia berhasil membunuh salah satu dari musuh-musuh Allah,
yaitu Umair bin Utsman bin Ka’ab At Taimi. Keberaniannya juga nampak
tatkala perang Uhud, medan dimana banyak diantara kaum muslimin yang
lari, namun ia tetap ditempatnya dan terus berperang. Diriwayatkan, ia
mengalami luka-luka sekitar dua puluh sekian luka. Akan tetapi
perjuangannya di medan perang masih lebih ringan, jika dibanding dengan
perjuangannya dalam harta yang dimilikinya.
Keuletannya berdagang serta doa dari Rasulullah saw,
menjadikan perdagangannya semakin berhasil, sehingga ia termasuk salah
seorang sahabat yang kaya raya. Kekayaan yang dimilikinya, tidak
menjadikannya lalai. Tidak menjadi penghalang untuk menjadi dermawan.
Diantara kedermawanannya, ialah tatkala Rasulullah
saw ingin melaksanakan perang Tabuk. Yaitu sebuah peperangan yang
membutuhkan banyak perbekalan. Maka datanglah Abdurrahman bin ‘Auf
dengan membawa dua ratus ‘uqiyah emas dan menginfakkannya di jalan
Allah. Sehingga berkata Umar bin Khattab, ”Sesungguhnya aku melihat,
bahwa Abdurrahman adalah orang yang berdosa karena dia tidak
meninggalkan untuk keluarganya sesuatu apapun.” Maka bertanyalah
Rasulullah saw kepadanya, ”Wahai Abdurrahman, apa yang telah engkau
tinggalkan untuk keluargamu?” Dia menjawab, ”Wahai Rasulullah saw, aku
telah meninggalkan untuk mereka lebih banyak dan lebih baik dari yang
telah aku infakkan.” ”Apa itu?” tanya Rasulullah saw. Abdurrahman
menjawab, ”Apa yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya berupa rizki dan
kebaikan serta pahala yang banyak.”
BUKTI KEDERMAWANAN ABDURRAHMAN TERHADAP ISLAM DAN RASULULLAH
Abdurrahman bin Auf pernah mendengar bahwa suatu hari Rasulullah saw bersabda :Wahai Ibnu Auf, engkau termasuk orang kaya, dan engkau akan masuk ke dalam surga secara perlahan-lahan (dengan cara merangkak), maka pinjamkanlah harta kekayaanmu itu kepada Allah, niscaya Allah akan meringankan langkah kakimu.
Sejak itu, ia meminjamkan harta kekayaannya itu
kepada Allah dengan sebaik-baiknya, dan Allah melipatgandakan hartanya
sebanyak-banyaknya. Ia juga menginfakkan lima ratus ekor kuda untuk
pasukan kaum Muslimin, dan pada hari yang lain ia menginfakkan seribu
lima ratus hewan tunggangan.
Puncak dari kebaikannya kepada orang lain, ialah
ketika ia menjual tanah seharga empat puluh ribu dinar, yang kemudian
dibagikannya kepada Bani Zuhrah dan orang-orang fakir dari kalangan
Muhajirin dan Anshar. Ketika Aisyah mendapatkan bagiannya, ia berkata,
”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, tidak akan memperhatikan sepeninggalku, kecuali orang-orang yang bersabar. Semoga Allah memberinya air minum dari mata air Salsabila di surga.”
Menjelang wafatnya, ia mewasiatkan lima puluh ribu
dinar untuk diinfakkan di jalan Allah, empat ribu dinar bagi setiap
orang yang ikut Perang Badar, hingga Khalifah Utsman pun memperoleh
bagian wasiatnya. Ketika mengambil (bagian)-nya, Utsman berkata:
“Sesungguhnya harta Abdurrahman ini halal lagi bersih, dan makanan yang
diberikannya mengandung ‘afiyah dan berkah.”
Sedemikian dermawannya Abdurrahman bin Auf, sampai
dikatakan: “Seluruh penduduk Madinah (pernah) berserikat dengan Ibnu Auf
dalam kepemilikan hartanya. Sepertiga harta itu dipinjamkannya kepada
mereka, sepertiga lagi digunakan untuk membayar hutang-hutang mereka,
dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagikan kepada mereka. ” Ia juga
meninggalkan warisan harta berupa emas yang sangat banyak. Harta itu
harus dibelah dengan kapak hingga melepuh tangan orang-orang karena
keletihan membelahnya.
Beliau juga terkenal senang berbuat baik kepada orang
lain, terutama kepada Ummahatul Mukminin. Setelah Rasulullah saw wafat,
Abdurrahman bin Auf selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
mereka. Menyertainya apabila mereka berhaji, yang ini merupakan suatu
kebanggaan tersendiri bagi Abdurrahman. Dia juga pernah memberikan
kepada mereka sebuah kebun yang nilainya sebanyak empat ratus ribu
dinar.
SATU KISAH KEDERMAWANAN ABDURRAHMAN BIN AUF
Dalam hal kedermawanan, dikisahkan satu kisah yang
sangat dikenang dari Abdurrahman bin Auf tentang kedermawanan yang sulit
ditiru pada zaman sekarang…
Pada suatu hari, kota Madinah sedang aman dan
tenteram, terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, datang dari tempat
ketinggian di pinggir kota; debu itu semakin tinggi bergumpal-gumpai
hingga hampir menutup ufuk pandangan mata. Angin yang bertiup
menyebabkan gumpalan debu kuning dari butiran-butiran pasir yang lunak,
terbawa menghampiri pintu-pintu kota, dan berhembus dengan kuatnya di
jalan-jalan rayanya.
Orang banyak menyangkanya ada angin ribut yang
menyapu dan menerbangkan pasir. Tetapi kemudian dari balik tirai debu
itu segera mereka dengar suara hiruk pikuk, yang memberi tahu tibanya
suatu iringan kafilah besar yang panjang.
Tidak lama kemudian, sampailah 700 kendaraan yang
sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan kota Madinah dan
menyibukkannya. Orang banyak saling memanggil dan menghimbau menyaksikan
keramaian ini serta turut bergembira dan bersukacita dengan datangnya
harta dan rezeki yang dibawa kafilah itu.
Ummul Mu’minin Aisyah ra demi mendengar suara hiruk
pikuk itu ia bertanya, “Apakah yang telah terjadi di kota Madinah?”
Mendapat jawaban, bahawa kafilah Abdurrahman bin ‘Auf baru datang dari
Syam membawa barang-barang dagangannya. Kata Ummul Mu’minin lagi,
“Kafilah yang telah menyebabkan semua kesibukan ini?” “Benar, ya Ummal
Mu’minin, kerana ada 700 kendaraan!” Ummul Mu’minin menggeleng-gelengkan
kepalanya, sembari melayangkan pandangnya jauh menembus, seolah-olah
hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat atau ucapan yang
pernah didengarnya.
Kemudian katanya, “Ingat, aku pernah mendengar
Rasulullah saw bersabda, ‘Kulihat Abdurrahman bin ‘Auf masuk syurga
dengan perlahan-lahan!’”
Abdurrahman bin ‘Auf masuk syurga dengan
perlahan-lahan? Kenapa ia tidak memasukinya dengan melompat atau berlari
kencang bersama angkatan pertama para shahabat Rasul? Sebahagian
shahabat menyampaikan ceritera Aisyah kepadanya, maka ia pun teringat
pernah mendengar Rasulullah saw mengucapkannya lebih dari satu kali dan
dengan susunan kata yang berbeda-beda.
Dan sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskannya, ditujukannya langkah-langkahnya ke rumah Aisyah lalu berkata kepadanya,
“Anda telah mengingatkanku suatu Hadits yang tak pernah kulupa.” Kemudian ulasnya lagi, “Dengan ini aku mengharap dengan sangat agar anda menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah ‘azza wajalla!”
Dan dibahagikannya lah seluruh muatan 700 kendaraan
itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai perbuatan baik
yang sangat besar.
Peristiwa yang satu ini saja, melukiskan gambaran
yang sempurna tentang kehidupan shahabat Rasulullah saw, Abdurahman bin
‘Auf. Dialah saudagar yang berhasil. Keberhasilan yang paling besar dan
lebih sempurna! Dia pulalah orang yang kaya raya. Kekayaan yang paling
banyak dan melimpah ruah. Dialah seorang Mu’min yang bijaksana yang tak
sudi kehilangan bahagian keuntungan dunianya oleh kerana keuntungan
agamanya, dan tidak suka harta benda kekayaannya meninggalkannya dari
kafilah iman dan pahala syurga. Maka dialah yang membaktikan harta
kekayaannya dengan kedermawanan dan pemberian yang tidak terkira, dengan
hati yang puas dan rela.
KEISTIMEWAAN ABDURRAHMAN BIN AUF
Diantara keistimewaan Abdurrahman bin Auf, bahwa
beliau berfatwa tatkala Rasulullah masih hidup. Rasulullah juga pernah
shalat di belakangnya pada waktu perang Tabuk. Ini merupakan keutamaan
yang tidak dimiliki orang lain.
Abdurrahman bin Auf, juga termasuk salah seorang
sahabat yang mendapatkan perhatian khusus dari Rasulullah. Terbukti
tatkala terjadi suatu masalah antara dia dan Khalid bin Walid, maka
Rasulullah bersabda,
”Wahai Khalid, janganlah engkau menyakiti salah seorang dari Ahli Badr (yang mengikuti perang Badr). Seandainya engkau berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan bisa menyamai amalannya.”
KEKAYAANNYA TIDAK MEMBUAT ABDURRAHMAN BIN AUF LUPA AKAN TUHAN-NYA
“Mushab bin Umair telah gugur sebagai syahid, ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku, ia hanya mendapat kafan sehelai burdah; jika ditutupkan ke kepalanya maka kelihatan kakinya, dan jika ditutupkan kedua kakinya terbuka kepalanya! Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku, ia pun gugur sebagai syahid, dan di saat akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir kalau-kalau telah didahulukan pahala kebaikan kami!”
Pada suatu peristiwa lain sebahagian sahabatnya
berkumpul bersamanya menghadapi jamuan di rumahnya. Tak lama sesudah
makanan diletakkan di hadapan mereka, ia pun menangis; karena itu mereka
bertanya, “Apa sebabnya anda menangis wahai Abu Muhammad?”
Jawab Abdurrahman,
“Rasulullah saw telah wafat dan tak pernah beliau berikut ahli rumahnya sampai kenyang makan roti gandum, apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan bagi kita?”
Begitulah ia, kekayaannya yang melimpah-limpah,
sedikitpun tidak membangkitkan kesombongan dan takabur dalam dirinya!
Sampai-sampai dikatakan orang tentang dirinya, “Seandainya seorang asing
yang belum pernah mengenalnya, kebetulan melihatnya sedang duduk-duduk
bersama pelayan-pelayannya, nescaya ia tak akan sanggup membedakannya
dari antara mereka!”
SIKAP ABDURRAHMAN BIN AUF TERHADAP KEKUASAAN
Abdurrahman bin Auf termasuk enam orang yang dipilih
Umar bin Khaththab menjadi anggota majelis syura yang akan menentukan
Khalifah sepeninggalnya. Umar berkata: “Rasulullah saw telah wafat dalam
keadaan meridlai kalian”. Semua orang dalam majelis itu menunjuk
Abdurrahman bin Auf, dan menyatakan bahwa ia lebih berhak memegang
jabatan sebagai Khalifah. Tapi, Abdurrahman bin Auf berkata:
“Demi Allah, daripada harus menerima jabatan.itu, aku lebih suka jika diambil sebilah pisau lalu diletakkan di tenggorokanku dan ditusukkan hingga menembus leherku ini.”
Sikap zuhudnya terhadap jabatan pangkat ini dengan
cepat telah menempatkan dirinya sebagai hakim di antara lima orang tokoh
terkemuka itu. Mereka menerima dengan senang hati agar Abdurrahman bin
‘Auf menetapkan pilihan khalifah itu terhadap salah seorang di antara
mereka yang berlima, sementara Imam Ali mengatakan,
“Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, bahwa anda adalah orang yang dipercaya oleh penduduk langit, dan dipercaya pula oleh penduduk bumi!”
WAFATNYA ABDURRAHMAN BIN AUF
Menjelang wafatnya, Ia meminta dikuburkan disamping
Utsman bin Madz’un. Ummul Mu’minin Aisyah ingin memberinya kemuliaan
khusus yang tidak diberikannya kepada orang lain, maka diusulkannya
kepadanya sewaktu ia masih terbaring di ranjang menuju kematian,
agar Abdurrahman bersedia dikuburkan di perkarangan rumahnya berdekatan
dengan Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. Akan tetapi Abdurrahman memang
seorang Muslim yang telah dididik Islam dengan sebaik-baiknya, ia merasa
malu diangkat dirinya pada kedudukan tersebut!
Selagi ruhnya bersiap-siap memulai perjalanannya yang
baru, air matanya meleleh sedang lidahnya bergerak-gerak mengucapkan
kata-kata,
“Sesungguhnya aku khawatir dipisahkan dari sahabat-sahabatku kerana kekayaanku yang melimpah ruah!”
Tetapi sakinah dari Allah segera menyelimutinya, lain
satu senyuman tipis menghiasi wajahnya disebabkan suka cita yang
memberi cahaya serta kebahagiaan yang menenteramkan jiwa. Ia memasang
telinganya untuk menangkap sesuatu, seolah-olah ada suara yang lernbut
merdu yang datang mendekat.
Pada tahun 32 Hijriyah, dalam umur 75 tahun, Abdurrahman bin Auf ra wafat
Ia diselimuti rasa tenteram, wajahnya diliputi cahaya
kegembiraan, pendengaran telinganya dipertajam seolah ada suara
bisikan, Ia sedang mengingat-ingat janji Allah dalam kitab-Nya,
“Orang-orang yang membelanjakan hartanya dijalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi apa yang telah mereka nafqahkan itu dengan membangkit-bangkit pemberiannnya dan tidak pula kata-kata yang menyakitkan, nescaya mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka; Mereka tidak usah merasa takut dan tidak pula berdukacita.” (QS Al-Baqarah [2]:262)
Ia juga sedang mengenang janji yang disampaikan Rasulullah saw:
“Abdurrahman bin Auf berada di dalam surga.”
Sumber : Buku Rijal Haular Rasul (Khalid Muh.Khalid), eramuslim.com, kisah.web.id, kajianislam.net, al-ikhwan.net
Komentar
Posting Komentar